Peristiwa
ISRA MI’RAJ adalah
“Kenyataan Persaksian Bathin & Ruhani” seorang hamba yang akan
menjadi Pangkal & Sumber dari segala Kekuatan Lahir & Bathin,
keSucian Ruh dan keBesaran Jiwa, juga merupakan Ketentraman ( rasa
ISTIQOMAH ) & keSempurnaan Amal Shaleh, dan sebagai sebuah
Penghambaan diri secara Murni & Total kepada Allah saja tanpa
disertai hasrat yang lain.
Dan Sejatinya ini adalah sebuah ” Cita cita Mulia ” bagi segenap umat
Islam yang mengakui dirinya telah “Taslim”. Yang dimaksud dengan cita
cita disini : Bukan berarti kita sebagai kaum Muslimin harus melakukan
ISRA MI’RAJ sama persis seperti peristiwa yang dialami Rasulallah, Tidak
!” tetapi yang dimaksud adalah : Bagaimana cara kita untuk
“mengaplikasikan” atau “mempraktekan” dari sebuah ayat yg menggambarkan
sebuah “Perjalanan Malam” yang AGUNG & MULIA yg telah dilakukan oleh
seorang Rasul Muhammad SAW yang Beliau ini adalah seorang “Uswathun
Hasanah” bagi kita semua. Amiiiiin…..
Bagaimana mungkin akan dikatakan telah berUswah kepada NABI jika kita TIDAK memPRAKTEKannya ?!
Baiklah, mari kita mencoba membuka IBRAH dibalik peristiwa ISRA MI’RAJ ini.
*
AD DIN & ILMU *
Ad Din adalah suatu “
Aturan” atau
“Sistem”
yang diturunkan ALLAH kepada “manusia” untuk diterapkan di BUMI ALLAH
ini. Dan memang sudah semestinya Bumi Allah ini diATUR langsung oleh
ALLAH, karena memang DIA lah PEMILIK BUMI ini. Tujuannya adalah untuk
Keselamatan,Kedamaian & Kesejahteraan bagi manusia itu sendiri,
yaitu bagi mereka yang MAU & Melaksanakan Aturan Allah itu.
Manusia telah diberi AKAL & ILMU ( Pengetahuan ) oleh Allah SWT.
Sebagai ALAT & PerSyaratan yang MUTLAK untuk hidup Dinamis dan Maju
ke depan sesuai Zamannya. Dari AKAL & ILMU inilah kita “BerPROSES”
untuk terus Maju ke arah yang “Lebih Baik” dari masa sebelumnya
diberbagai Bidang dan dalam Hal apapun. Inilah yang disebut
“Pengetahuan” ( WatensChap) ; yaitu suatu “Kumpulan” Pengalaman,
Penjelajahan dan KeCerdasan AKAL manusia dalam kurun waktu yang telah
mengalami masa TRY & ERROR.
Suatu ILMU baru akan dikatakan sebagai ILMU jika telah melewati masa ”
UJI “. Dan kemudian diSEMPURNAkan dengan ” Praktek” atau “PemBUKTIan”
yang dilakukan dalam kenyataan Hidup dan kehidupan. Itulah yang disebut
“USAHA/ IKHTIAR” amalan, atau kerja nyata. Baru kemudian munculah
“HASIL”. Dan Hasil ini bisa dalam wujud,bentuk & sifat sifat
tertentu, yang dapat kita Rasakan, kita Nikmati,juga dapat kita Periksa
& kita Teliti kembali atau kita Tinjau Ulang. Nah, “Praktek” inilah
yang disebut “TEKHNIK”.
Antara “Pengetahuan & Tekhnik” atau antara ILMU & TEKHNOLOGI (
kedua bentuk KeCerdasan manusia ) ini, tidak dapat dipisahkan satu
dengan yg lainnya. Keduanya saling berkaitan erat & tak terpisahkan.
Dan di abad 21 ini, ILMU & TEKHNOLOGI telah mengalami masa
“Puncaknya”. Terbukti dengan terciptanya sebuah alat yang hampir
menyerupai “Otak” manusia, yang dapat menyimpan ribuan bahkan jutaan
“Data” didalamnya. ya apalgi jika bukan yang kita kenal dengan sebutan “
COMPUTER”.
Di abad 21 ini , bolehlah kita sebut dengan ABAD COMPUTERISASI, karena
dalam berbagai aspek kehidupan manusia dibelahan Bumi manapun, manusia
hampir seluruhnya menggunakan alat yang disebut Computer.
KeCanggihan Penemuan inilah yang membuat manusia “LUPA” pada “Pemberi Kecerdasan” itu sendiri.
Lupa pada “Khaliq” nya, sehingga “Tidak ada KeInginan” di dalam “Jiwa”
setiap manusia untuk “MAU” melaksanakan DIN ALLAH ( Sistem Tuhan)
sebagai aturan yg selajimnya digunakankan dibelahan Bumi manapun. Karena
Tuhan lah yg menCiptakan BUMI beserta ISInya ini, tentu sudah
selayaknya ATURAN TUHAN pula yg seharusnya di pakai ( digunakan ). Sebab
antara ILMU & DIN pun tidak dapat dipisahkan :
ILMU tanpa DIN —–> dia akan membabi buta.
DIN tanpa ILMU —–> dia akan Binasa.
Begitulah Sunnatullah.
* HIKMAH & I’TIBAR *
Mari kita tela’ah Hikmah & I’tibar dibalik peristiwa Isra Mi’raj yg
telah Allah sampaikan kepada kita melalui ayat ayat Al qur’an yg sudah
seWajibnya kita Imani dan kita Praktekan sebagai Wujud KeTa’atan dalam
keYakinan kita sebagai Muslim yang berIman. Sebab “Tidaklah” akan Allah
“Uraikan” sebuah “Kisah” jika tidak ada IBRAH didalamnya untuk kita
semua.
Ilmu Allah telah tercantum didalam Al qur’an. Dan Ayat ayat Allah di dalam Al qur’an adalah
” RUH ” atau “
Nyawa” untuk Hati dan Fikiran kita.
Barang siapa yang “berpegang Teguh” pada ayat ayat Allah !” Niscaya ”
Hati” & “Fikiran” nya akan HIDUP, tetapi jika sebaliknya !!!” maka
“Hati” & “Fikiran” nya akan MATI !!!”
Jangan heran jika disekeliling kita banyak ” mayat hidup “. Artinya :
meskipun dia bernyawa tapi JIWA nya MATI dari Cahaya ALLAH ( Petunjuk
Allah ), karena telah “KeLUAR” dari Aturan / Ajaran ILLAHI.
Na’udzubillahimindzalik !!!”
Jika kita telah mengakui sebagai umat ISLAM sudah seharusnya kita
memiliki keSadaran untuk berDIN ISLAM ( ISLAM Minded ) atau berPOLA
PIKIR/berATURAN/berSISTEM hanya ISLAM saja. Nah tingkat kesadaran inilah
yg seharusnya membuat kita menjadi “PeMeluk ISLAM” ,dan bukan
berdasarkan “Keturunan” atau hanya sebatas mengikuti adat kebiasaan
semata ( ikut ikutan saja ).
Dari Tingkat keSadaran inilah yang kemudian akan muncul ” HASIL ” yaitu sebuah “Pengakuan” bahwa : ISLAM itu diatas segalanya.
( AL ISLAMU YU’LA wala YU’LA ‘ALAIH ) artinya : ISLAM itu TINGGI & TIDAK ADA yg dapat menyamai KETINGGIANnya . Amiiiiiin…………
Jika Hati & Fikiran kita telah terPOLA dengan ” ISLAM Minded ” tentu
Insya Allah kita akan dengan mudah untuk memahami “Rahasia” dibalik
peristiwa : ” Perjalanan Malam Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan
“ISRA & MI’RAJ”. Sebab sudah merupakan “Janji ALLAH” ——-> Al
Qur’an adalah Petunjuk bagi kita. Maka siapa pun yg berISTIQOMAH
berpegang teguh pada AJARAN ILLAHI atau ILMU ALLAH ( yaitu :AL QUR’AN ),
maka melalui ayat ayat NYA kita akan di PANDAIKAN oleh ALLAH.
Amiiiiiin………
* Keadaan sebelum ISRA & MI’RAJ *
Sudah merupakan “Sunnatullah” dan “Sunnah Rasul” juga Sunnah para Nabi
yang lainnya, jika akan menegakan DIN Allah ( AJARAN ILLAHI) maka mereka
bahkan siapapun itu, pastinya akan mendapatkan “Penolakan” dari
masyarakat sekitar. Penolakan ini bisa berbagai macam bentuknya, mulai
dari Celotehan miring, caci maki, di Cerca, di Hina, di Benci, di
Musuhi, di Cemo’oh, di Fitnah, bahkan di katakan “SESAT”. Hal ini akan
terus berlangsung & terus berulang sampai kapanpun dan dibelahan
Bumi manapun.
Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulallah Muhammad SAW pun,
mengalami hal yang sama, sebab ALLAH selalu akan menguji bagi siapa saja
yang mengaku dirinya berIMAN.
Pada tahun 5 N ( tahun ke 5 sejak Muhammad SAW menerima Wahyu atau
diangkat sebagai NABI ), terjadilah HIJRAH yang pertama,yaitu yang
dilaksanakan oleh para Sahabat / Pengikut Rasul yang SETIA ke wilayah
Habsyi, yaitu suatu Negeri yang dikuasai oleh seorang Raja Najas dari
kalangan Nasrani, yang jumlahnya seramai 11 orang Pria dan 4 orang
Wanita.
Mereka meninggalkan kampung halamannya, sanak saudaranya, negeri dan
tanah air yang mereka cintai. Mereka lakukan itu semua hanya semata mata
untuk memeluk ISLAM secara “Murni” dan mentaati perintah Allah.
Begitulah seterusnya yang terjadi pada Hijrah hijrah yang lain, selalu
dan akan selalu menghadapi UJIAN dari Allah SWT. Suhanallaaah………
Setiap ujian tentu akan ada masa PUNCAKnya, demikian pula yang dialami
oleh Rasul dan para Sahabat Beliau yaitu dengan di berlakukannya “Boikot
Sosial” oleh masyarakat sekitar, hingga di riwayatkan sampai sampai
Dapur Rasulallah pun tidak mengepulkan asap.Boikot sosial itu
berlangsung kurang lebih 3 tahun lamanya, yaitu sejak 7 N sampai 10 N (
tahun pengangkatan Nabi ).
UJIAN seberat itu sepertinya masih belum cukup, maka Allah tambahkan
lagi dengan ujian lain yaitu dengan wafatnya “Paman Nabi” Abu Tholib,
beliau adalah seorang paman Rasul yang amat setia, dia adalah pelindung
& pembela Nabi, dan Nabi Muhammad SAW pun sangat menyayangi dan
mengasihi beliau. Disaat suasana “Duka” belum lagi sirna, suasana Sedih,
Pahit, Getir tengah dirasakan Nabi, bersamaan itu pula maka turunlah
ujian dari Allah yang lain,ujian yang “Maha Berat” bagi diri “Pribadi
Rasul” yaitu berpulangnya Istri terCinta ke Rahmatullah, beliau adalah
seorang wanita yang selalu setia mendampingi Nabi, yang selalu menghibur
disaat suka maupun duka, seorang Wanita (manusia) yang paling “Pertama”
mengakui keNABIan dan keRasulan Muhammad SAW, ya’ dialah SITI KHADIJAH,
seorang istri yang teramat sangat beliau sayangi. Maka lengkaplah sudah
ujian yang Allah turunkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, itulah tahun
“Duka Cita” yang mendalam, yang kita kenal dengan sebutan tahun “ AM ‘UL
HUZN”. Subhanallaaaah……….lahaula walaquata illa billaaaah……….
Meskipun suasana duka masih menyelimuti pribadi Nabi, tapi bagi
Rasulallah SAW, TUGAS menSYIARkan ISLAM adalah yang UTAMA, maka Beliau
pergilah ke kota “Thoif”, tetapi di kota itu Rasul belum mendapatkan
sambutan sesuai harapan, baru kemudian ketika Rasul Hijrah ke “Yastrib”,
di kota inilah Rasulallah mendapat sambutan yang luar biasa dari
masyarakatnya. Terbukti dengan adanya : “ Bai’at AQOBAH” yang pertama
& kedua, yang masing masing berlangsung pada 11 N dan akhir 12 N
(tahun keNabian). Itulah sebabnya mengapa kota “YASTRIB” diganti dengan
sebutan “MADINAH” (Ma = Tempat, Dinah = Tegaknya DIN). Jadi artinya
MADINAH itu adalah : suatu Wilayah tempat tegaknya DIN. Amiiiiiin…….ya
Robbal’alamiiiiiin……….
NUZULUL AYAT & TERJADINYA MU’JIZAT
Sepanjang penyelidikan Tarikh Islam dan penjelajahan Ilmu Nuzulul
Qur’an, maka peristiwa yang “ Setengah Ghaib” berwujudkan Perjalanan
Suci : ISRA MI’RAJ Rasulallah SAW ini terjadi pada malam tanggal 27
Rajab pada tahun 12 N. Peristiwa inilah moment yang sangat penting dalam
Sejarah Rasullah SAW. Sebuah perjalanan Suci yang terjadi disaat
suasana Duka Cita yang mendalam baik itu yang dirasakan Rasulallah SAW
secara Pribadi, maupun Ujian berat bagi para Sahabat Beliau yang Setia.
Peristiwa Isra Mi’raj ini terjadi, kurang lebih 8 bulan sebelum Hijrah
Rasulallah SAW dari kota MAKKAH ke MADINAH, yaitu pada tanggal 4hingga
12 Rabi’ul awal, pada tahun ke 13 N atau tahun 1 H (Hijriyah), atau pada
pertengahan tahun 622 M (Masehi). Inilah salah satu “Titik Patok” dalam
Sejarah Islam yang terkenal hingga sekarang. Tetapi sayangnya Peristiwa
bersejarah ini hanya sebatas diperingati saja, tanpa mau memahami arti
terdalam “Makna” yang sebenarnya.
Menurut sebagian Ulama Mufassirin dan sebagian Hukama (para ahli Hukum
Islam), bahwa kedua peristiwa penting ini (1) Isra Mi’raj dan (2) Hijrah
Rasul ; ini adalah “Dua Hal” yang tidak dapat dipisah pisahkan satu
dengan yang lainnya. Ibarat rasa Manis dengan Gula atau rasa Asin pada
Garam atau Bathin dengan Dlohir’nya atau Sebab dengan Akibatnya.
Mari kita tinjau sejenak : Peristiwa Isra Mi’raj ini adalah MU’JIZAT
bagi Nabi Muhammad SAW, ini adalah Sebuah Peristiwa Besar yang Luar
Biasa, Peristiwa Hebat yang Mencengangkan bagi siapapun yang
mendengarnya. Terlebih lagi peristiwa ini terjadi di jaman dahulu yang
belum pernah tercipta atau bahkan terkhayalkan adanya PESAWAT terbang.
Peristiwa ini terjadi bukan karena Nabi Muhammad SAW itu seorang yang
berIlmu Tinggi atau seorang yang “Sakti Mandraguna”, melainkan
“MU’JIZAT” itu adalah : “Suatau tanda Kekuasaan Allah yang diNYATAkan,
atau dipertunjukan Allah kepada para Nabi dan Rasul Nya atau kepada
hambaNya yang terpilih. Tujuannya adalah untuk MemperTeguh dan
MemperKuat keYakinan dan kePercayaan orang tersebut Betapa Maha Kuasa
dan Maha Besar nya ALLAH atas segala sesuatu dimuka Bumi ini. Dan juga
untuk memBersihkan Tekad dan Niatnya dalam melaksanakan TUGAS ILLAHI,
agar Sepi dari Syak wa Sangka, lepas dari Duga dan Curiga. Tetapi Penuh
dengan Keyakinan akan Benarnya segenap apa yang diturunkan Allah dan
juga rasa Yakin pada Janji janji Allah SWT yang selalu Pasti akan
menepati JanjiNya. Amiiiiiin………ya Robbal’alamiiiiiin…………….
Nah maka selanjutnya Hikmah & Ibrah yang dapat kita petik : kita pun
wajib melaksanakan Isra Mi’raj ini, tetapi tentunya dalam konteks yang
berbeda, tetapi dengan INTI dan Tujuan yang sama. Sebab seluruh kisah
yang terjadi pada para Nabi & Rasul Allah, yang Allah sampaikan di
dalam AL QUR’AN memiliki tujuan yang sama yaitu : Menegakan DIN Allah
atau AJARAN ILLAHI. Subhanallah…………….
MAKNA UMUM & MAHFUM atas beberapa ISTILAH.
Sebelum menginjak pada persoalan I’tibar Ma’ani dan Majazi, selintas kita urai makna umum dari Isra Mi’raj Rasulallah SAW :
1. ISRA : adalah perjalanan Malam Rasullah pada tanggal 27 Rajab tahun
12 N, dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsho (Baitul Maqdis)
dengan melewati beberapa kota yaitu : (1) Yastrib, (2) Gunung Tursina,
(3) Betlehem (Baitullah ). QS : Bani Isra’il : ayat 1.
2. MI’RAJ : makna Mi’raj dalam ajaran Islam adalah : TANGGA atau
“Wasilah” yang digunakan oleh Arwah para Nabi & para Rasul dan para
Sholihin lainnya untuk bermunajat tinggi naik ke hadapan ALLAH, dalam
kisah ini kita kenal dengan : Rasul menaiki tangga 7 lapis langit :
Di langit yang pertama Nabi nerjumpa dengan Nabi MUSA AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Musa AS.
Di langit yang ke 2 Nabi bertemu IBRAHIM AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Ibrahim AS.
Di langit yang ke 3 Nabi bertemu SHOLEH AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Sholeh AS.
Di langit yang ke 4 Nabi bertemu HUD AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Hud AS.
Dilangit yang ke 5 Nabi bertemu NUH AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Nuh AS.
Di langit yang ke 6 Nabi bertemu IDRIS AS, disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Idris AS.
Di langit yang ke 7, yaitu langit yang tertinggi Nabi bertemu ADAM AS,
disini Nabi Muhammad SAW mendapatkan ILMU dari Nabi Adam AS.
Setelah melalui tangga (Mi’raj) yaitu 7 lapisan langit, barulah kemudian
Nabi Muhammad SAW memasuki “SIDRATUL MUNTAHA” . Dikisahkan Sidratul
Muntaha ini adalah tempatnya para “Malaikat”, dia adalah sebuah “Pohon
Besar” yang terang benderang, dengan cabang yang terbentang luas,dan
mengalirnya Sungai sungai yang penuh Rahmat dan Kautsar dibawahnya.
Itulah puncak tertinggi yang dapat kita gali dibalik “Rahasia Ghaib”
dari perjalanan Isra & Mi’raj Rasulallah SAW,dan selanjutnya setelah
itu wallahu’alam bishawab.
Dikisahkan, sebelum terjadinya keberangkatan menuju Isra Mi’raj, dada
Rasulallah di bedah dan dibersihkan, ini menandakan untuk melaksanakan
perjalan “Suci” ini dada atau Jiwa Rasulallah harus benar benar “Bersih”
dari segala noda noda.
*
BURAQ *
Dikisahkan pada saat Isra Mi’raj, kendaraan yang digunakan oleh Beliau
adalah “Buraq”. Buraq digambarkan berwarna Putih Bersih, bergerak
“seCepat Kilat” dan berdasarkan perintah dari Tuannya (Pimpinannya), dia
Sami’na wa ‘Atho’na, Buraq juga bersifat sangat hati hati & teliti
dalam melaksanakan “Tugasnya” sekaligus juga sebagai Penjaga Nabi
Muhammad SAW dalam perjalan Suci tersebut.
Hikmah dan Ibrah bagi kita adalah : Jika Buraq merupakan “Sarana” yang
digunakan dalam perjalan Nabi, maka “Sarana” bagi kita ada di dalam
“Hati” kita. Jadi artinya Hati kita haruslah seperti Buraq, yaitu Putih
Bersih, bergerak cepat dalam merespon Tugas, hati hati dan teliti,
sekaligus juga sebagai penjaga Pimpinannya. Amiiiiiin…………
MALAIKAT JIBRIL & MIKA’IL
Pada perjalan suci Isra Mi’raj, Rasulallah selalu didampingi oleh
malaikat Jibril dan Mika’il sepanjang perjalanannya menuju Sidratul
Muntaha, kita semua telah kenal benar bahwa tugas malaikat Jibril adalah
Pemberi Wahyu, artinya sepanjang perjalanan Suci itu Nabi Muhammad
tidak pernah lepas dari bimbingan Wahyu ILLAHI.
Dan tugas malaikat Mika’il adalah : Pemberi Rizki, artinya dalam
melaksanakan Tugas Suci tersebut, jangan pernah takut akan kelaparan,
karena Allah sudah memiliki petugas khusus yang akan mengontrol Rizki
Hamba Nya.
YASTRIB atau MADINAH
Tempat pemberhentian pertama adalah Yastrib, dan setelah melaksanakan
Isra Mi’raj, Rasul pun Hijrah ke kota Yastrib dan kemudian diganti
namanya menjadi MADINAH yang artinya : Tempat tegaknya DIN Allah.
Gunung
TURSINA
Setelah melakukan persinggahan pertama di Yastrib selanjutnya Rasul
melakukan persinggahan di Bukit Tursina, yaitu tempat Nabi MUSA AS
menerima Wahyu Illahi, dan masih di sekitar wilayah itupun ada suatu
tempat yang bernama :
MADIAN yang kurang lebih artinya sama dengan Madinah yaitu Tempat tegaknya Din Allah.
BETHLEHEM
Tempat persinggahan ke tiga adalah Bethlehem yaitu tempat kelahiran Nabi ISA AS.
Bathlehem atau dalam bahasa Arabnya “BAITULLAH” yang artinya di tempat itu pernah ada Rumah Allah atau Kerajaan ALLAH.
BAITUL MUQADIS atau
JERUZALEM
Ujung dari perjalanan Isra yang Suci ini adalah Rasulullah SAW singgah
di Jeruzalem. Di tempat ini Rasulullah singgah ke Masjidil AQSHO, Masjid
Aqsho ini sempat menjadi Kiblat pertama bagi Nabi SAW. Selesai
melakukan Sholat di Masjidil Aqsho perjalanan Rasul dilanjutkan dengan
Mi’raj ke Sidratul Muntaha.
Kota Jeruzalem dalam bahasa Arabnya adalah DARUSSALAM yang artinya NEGERI SEJAHTERA.
Demikianlah kiranya Hikmah & I’tibar atau Ibrah yang dapat kita
petik dari perjalanan Suci Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Semoga kita
sebagai umat Islam dapat meneladani segala yang telah di Sunnahkan Nabi
Muhammad SAW kepada kita semua. Semoga kita dapat melaksanakan Sunnah
sunnah Nabi Muhammad SAW. Amiiiiin…